by

Fenomena Menjelang Pemilihan daerah

oleh : Irwandi

sumbar.perdananews.com – Pemilihan kepala daerah di Sumatera Barat aromanya makin terasa. Mulai dari pemasangan foto-foto para calon kandidat, sampai “pers lepas” di warung kopi mendengungkannya. Itu merupakan pesona demokrasi yang harus kita jaga. Dari foto masyarakat akan melihat rona yang dipancarkan oleh kandidatnya.
         Mereka akan  melihat mana jagoan yang harus dijagokan mana jagoan yang hanya mempunyai sisik bertuah saja. Atau mungkin Bapak-bapak dan Amak-amak akan menatap sejenak ke rona muka baliho mana yang dikasih bedak. Begitu juga mereka yang sibuk menyerak janji sementara janji kemaren sudah bersemak untuk tidak tertutup hari.
         Masyarakat kita sudah sangat cerdas menyikapi lagu-lagu menghitung hari ini. Semua itu merupakan siklus yang harus kita rayakan. Siapa yang kita pilih tentu ada sekepal harapan yang akan kita tumpangkan niat suci kepadanya. Kita tidak meminta uang, sebab kita tahu uang mereka sudah berserak-serak untuk membuat baliho. Yang kita minta adalah kedamaian hakiki. Damai dalam urusan ekonomi, damai dalam mentadaburi ayat ilahi.
         Kepada sang penguasa lah kita akan mengadu mendapatkan keadilan menuju kesimpulan damai tadi. Beliau adalah wali yang akan menanggung gejolak hati masyarakat. Beliau adalah perenang yang akan merenangi gelombang kehidupan ummat. Beliau itu akan menjadi suluh yag akan memberi secercah cahaya dilorong-lorong pekat. Beliau adalah Niniak-mamak dalam arti yang luas di zaman moderen ini.
         Karena berstatus wali maka beliau harus sangat dekat pada ilahi. Karena seorang perenang beliau harus tahu bahwa olah raga berenang itu pernah dianjurkan oleh mulut yang mulia, gunanya untuk membela diri dan agama. Karena suluh maka beliau harus tahu ‘Galodo kok datang dari ilia, tirih kok datang dari lantai’. Beliau adalah Niniak-mamak moderen yang akan menjadi publik figur untuk masyarakat banyak.
         Siapa wali semua kita tahu, beliau adalah hamba pilihan yang taat pada Allah. Siapa atlet renang kita tahu, beliau adalah orang yang kesehatan dan kekuatannya yang tidak diragukan lagi. Berbicara dasar suluh kita sebagai masyarakat Minang sangat tahu, ia berasal dari daun kelapa yang bagus dan kering, kalau tidak alamat cahaya akan gelap. Membahas masalah Ninik-mamak, itu adalah gelar yang sangat tinggi ditatanan adat Minang. Mulai dari bibitnya, keilmuannya, hubungannya dengan masyarakat, sampai dengan maru’ah dia. Ini adalah gelar yang diberikan, bukan gelar yang syarat dengan pemberian.
         Niniak-mamak boleh orang yang sebaya dengan ibu kita, atau keatasnya, tapi lebih dari itu. Beliau adalah yang dalam ilmu agamanya, yang kuat badannya, yang luas wawasannya.
Bagaimana mungkin kita akan meletakan gelar kebesaran pada orang yang mempunyai akhlak yang tidak ‘bakarunciangan’. Mereka mengidolakan Tiang Bungkuak dalam perebutan kekuasaan Pagaruyuang. Dulu Tiang Bungkuak menggunakan fisik dalam memenangkan perebutan kekuasaan, sekarang mereka menggunakan kelicikan dalam mencapai kekuasaan.
Kita merasa miris melihat metode-metode yang disiapakan oleh seorang kawan untuk saudaranya demi menjegal dan mengambil kekuasaan. Cara-cara itu mungkin Rabab sudah mengabarkan.
         Mudah-mudahan daerah ini menjadi daerah yang Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Pemimpin yang memerintah dengan berpegang pada ayat-ayat ilahi. Sehingga kaba Tiang Bungkuak hilang seiring hentinya gesekan tukang rabab.

Comment

PERDANANEWS