by

Menata Indonesia Ke Depan dengan Menata Akhlak Warganya

Oleh: Irwandi
Sumbar.perdananews.com – Kemerdekaan adalah saat seseorang merasa nyaman. Jauh sebelum 17 Agustus 1945 para pejuang kita merasa nyaman untuk mengorbankan harta dan jiwanya. Jikalau ditelusuri sebab mereka merasa nyaman dengan resiko yanga akan ditempuh, jawabannya adalah rasa takut mereka telah habis pada makhluk karna telah dicurahkan pada khalik. Sebenarnya waktu itu mereka sudah merdeka.
Sekarang kita lihat dan kita rasakan, masih banyak orang yang takut kelaparan sehingga menghalalkan berbagai cara, maka pada hakikatnya mereka belum merasakan kemerdekaan. Rasa nyaman sekarang seakan telah sirna disebagian besar masyarakat. Berbagai macam ketakutan melanda ketiap-tiap diri warga, takut kekurangan harta, benda dan lain sebagainya. Semua itu terjadi karna orang-orang melihat ada sinyal-sinyal krisis yang akan dialami negara.
Kepada siapa masyarakat akan berpegang untuk menyangga kakinya untuk berdiri menjalani rutinitas kehidupan yang penuh dengan berbagai tantangan. Ekonomi labil, biaya kesehatan mahal, biaya pendidikan tinggi, semua kebutuhan hidup melonjak. Semua keluh-kesah itu tertuju pada pemerintah untuk mencarikan solusi terbaiknya, namun pemerintah sekarang juga terlihat panik. Keputusan-keputusan tidak singkron satu dengan yang lainnya.
Indonesia mempunyai kekayaan alam yang sangat melimpah ruah, mulai dari bahan tambang, rempah-rempah dan hasil pertanian lainnya. Tapi semua itu tidak dinikmati oleh masyarakat, sebagian besar telah tergadai. Hal ini terjadi karena berkuasa orang-orang yang tidak kompeten di bidangnya dan tidak berakhlak di dalam dirinya. Mereka menduduki jabatan-jabatan strategis karena hutang politik dari proses pemilu. Mereka menjalankan kekuasaan dengan menerobos rambu-rambu yang diberikan oleh yang menciptakan diri dan alam tempat kita bermukim.
Kita sekarang kehilangan contoh yang akan diteladani di tengah-tengan menjalani rutinitas kehidupan. Dahulu saat M. Hatta ditawari oleh Soekarno untuk berangkat haji dengan ongkos dari negara beliau menolak, beliau memilih berangkat dengan tabungan dari honorarium penerbitan buku-bukunya.. Begitu juga dengan tagihan listrik yang tidak bisa dibayar dengan uang pensiunannya.
Keakraban dalam berwarganegara telah dikotak-kotak oleh rezim penguasa. Silaturrahmi yang selama ini terjaga diputus oleh mesin-mesin politik. Kehangatan sosial dipudarkan oleh sifat pemimpin yang sulit move on. Betul-betul terharu rasanya membaca kisah Buya Hamka yang mengimami solat jenazah dan jenazah itu waktu hidupnya sempat memenjarakan beliau.
Kehilangan akhlak di tubuh generasi itulah agaknya penyebab dan pemicu hilangnya jati diri kemerdekaan. Oleh karena itu dengan memperbaiki akhlak akan mengembaliakan hakikat kemerdekaan yang hanya tinggal gaungan saja. Geneasi yang berakhlak yang akan menyayangi sumber daya alamnya agar tidak dikuasai asing. Bangkitkan generasi yang berakhlak, insya Allah Indonesia akan bangkit juga.

Comment

PERDANANEWS