by

Tak Patut Puan Begitu

Oleh : Irwandi
Sumbar.perdananews.com -Pernyataan Puan Maharani ‘semoga Sumatera Barat bisa menjadi provinsi yang memang mendukung Negara Pancasila’ menimbulkan kegaduhan di hati masyarakat Minang. Hal ini berhubungan dengan demografis Sumatera Barat yang dihuni oleh sebagian besar masyarakat bersuku Minang. Suku bangsa yang terkenal dengan cara bertutur kata dan mempunyai daya rasa yang tinggi.
Sumatera Barat dilihat dari suku bangsa yang menempatinya sebagian besar dihuni oleh masyarakat bersuku Minang. Secara historis telah melahirkan tokoh-tokoh handal dan menjadi pahlawan di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Semasa nyawa hanya seperti nyawa capung di mata kaum penjajah, dimasa itu pula Orang Minang telah bergelut dengan meriam dan letusan bedil. Jauh sebelum anak-anak bersekolah bersepatu dan berdasi Anak-anak Minang telah mendebat kaum penjajah dengan falsafah hidupnya.
Bahkan kalau boleh disampaikan yang menempa diri Soekarno yang merupakan kakek Puan sebagian besarnya adalah orang Minang. Terlunta-lunta beliau di daerah Painan diperjalanan dari Bengkulu menuju Padang orang Minanglah yang menyelamatkannya. Sampai Soekarno menikah dengan Gadis Minang yang mana merupakan nenek dari Puan sendiri. Darah yang mengalir di diri Puan tidak diragukan lagi warna Minangnya, baik dari garis ibu begitu juga ayahnya yang berasal dari Payakumbuh. Tapi mengapa pernyataan itu harus keluar dari mulutnya.
Sudah dicoba untuk membujuk-bujuk hati, untuk berbaik sangka ke Puan dan menurut kepada penjelasan di kolega partainya. Urang arif urang cilako, indak arif badan binaso, agaknya itulah yang menjadi dilema saat hati untuk membisu saja. Pernyataan Puan diperkuat oleh pernyataan Megawati yang mempertanyakan kenapa Masyarakat Minang tidak menerima partainya. Entah karna lupa sejarah entah karna menghilangkan jasa, atau terbawa emosi seketika.
Alun takilek lah takalam bulan disangko tigo puluah, alun diliek lah dimakan raso lah dalam batang tubuah. Seandainya Puan cepat-cepat mengklarifikasi ucapannya mungkin tidak terjadi simpang-siur penafsiran. Sebab yang tahu maksud kata adalah sipembicara penuturnya. Namun habis hari berganti Minggu kelihatan yang bersangkutan masih mengintip-intip dibalik tahta, selagi hanya ribut-ribut biasa dibiarkan saja. Entah karena besar dirantau lupa dengan adat bertutur kata dikampunya.
Andai itu merupakan harapan dan do’a seperti yang disampaikan kolega Puan, adakah gejolak yang mengarah bahwa Orang Minang alergi dengan Pancasila. Justru Masyarakat Minang melakukan PRRI karena memprotes Soekarno urang sumando di daerahnya yang membuat konsep nasakom. Mungkin hanya gara-gara kontestasi politik kemaren jagoannya tumbang di Sumatera Barat. Ya itulah kata tepat agaknya, boleh Puan berkilah tapi semakin berkilah semakin jelas duduk masalah.
Tangan mencincang bahu memikul, Masyarakat Minang tidak pendendam. Puan yang berbicara Puan yang menjelaskannya. Tidak usah melalui kolega atau juru bicara, kalau memang maksudnya tidak seperti spekulasi yang terjadi. Tidak ada gading yang tak retak, permohonan maaf melambangkan kebesaran jiwa seseorang.

Comment

PERDANANEWS