by

Di Demo Jokowi Tak di Istana

Oleh: Erizal

Setidaknya, ini kali kedua, saat terjadi demo besar, Presiden Jokowi, tak berada di istana. Pertama, saat 411, demo yang berawal dari pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu. Saat itu jutaan massa sudah berkumpul di istana ingin menyatakan sikap, agar Ahok diberi sanksi. Jangankan sanksi, tuntutan pendemo pun tak didengar, hingga demo berlanjut menjadi 212.

Saat itu, Presiden Jokowi memilih blusukan ke Bandara Soekarno-Hatta. Saat itu, terminal 3 sedang dibangun dan akan segera digunakan. Istana ditinggal tuannya. Massa tetap berada di depan istana dan diisi orasi oleh para tokoh. Habib Rizieq tampil di depan. Ada Amien Rais, Fahri Hamzah, Fadli Zon, dll. Massa, akhirnya, bentrok setelah Magrib, di depan gedung DPR.

Kedua, demo kemarin, 810. Entahlah, berapa jumlah massanya? Menurut Harian Rakyat Merdeka, demo 810, dibanding 411 atau 212, jauh lebih besar. Entahlah. Tapi bisa jadi karena daerah-daerah, juga ikut berdemo. Artinya, aksi tak hanya terpusat di Jakarta. Dan orang-orang yang ikut demo 411 atau 212, bisa jadi masih ikut demo 810. Isunya lebih beragam, tak satu.

Puncaknya, penolakan terhadap UU Omnibus Law (Cipta Kerja). Tapi, sebelumnya, sudah ada juga demo-demo lainnya. Penolakan Gatot di Surabaya, misalnya. Ramai isu bangkitnya PKI, dll. Belum lagi, didorong krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Sekolah dan kuliah hanya lewat virtual. Macam-macam. Jadi, banyak alasan orang ikut berdemo ketimbang 411 atau 212.

Dulu, sebelum aksi 411 dan 212, juga sudah didahului oleh aksi-aksi penentangan terhadap Ahok, di Jakarta. Banyak orang yang tak tahan sama mulutnya. Aksi makin lama makin besar. Hingga Ahok terjerembab pernyataan sendiri di Kepulauan Seribu itu. Dan tentu saja, ada yang “memainkan”. Pihak yang merasa diuntungkan, termasuk dari parpol, mulai mengambil posisi.

Demo 810 kini pun, akan begitu. Kepala daerah juga sudah mengambil posisi. UU yang diduga bakal merampas kewenangan daerah, juga mulai tampil. “Raja-raja kecil” bakal dirugikan. Tentu, tak akan terang-terangan. Ada yang datang ke tengah-tengah massa seolah-olah respek, sekadar berkirim surat ke pusat, dll. Ini momen yang tak akan pernah terulang lagi.

Agaknya, cara melihat demo besar bukan dari istana, menjadi style tersendiri Jokowi. Bisa jadi, agar ia lebih utuh melihat semua masalah. Tentu, bukan karena takut. Ada orang memang yang tak siap, face to face, saat ada masalah. Memilih berjarak, tentu saja tak buruk. Asalkan solusinya selalu yang terbaik. Dan belum tentu juga pembatalan UU Cipta Kerja ini, akhirnya bisa benar-benar mengakhiri demo besar ini. Ini tak hanya situasi sulit, tapi juga berbahaya.

Comment

PERDANANEWS